Relasi Pendidikan (Agama) dan Kebudayaan

  • Hawwin Muzakki IAIN PONOROGO

Abstract

Indonesia adalah Negara Republik, bukan negara teokrasi yang didasarkan pada sebuah ajaran agama tertentu. Sebab itulah pentingnya menyusun sebuah formulasi pendidikan yang berdasar kepada nilai agama secara umum (bukan dari agama tertentu). Cita-cita itulah yang digagas oleh Ki Hadjar Dewantara. Melalui pembacaan hermeneutika filosofis, penulis ingin merevitalisasi pemikiran pendidikan Ki Hadjar Dewantara. Rumusan masalah dalam penelitian ini untuk menyelidiki 1. Bagaimana Transformasi kebudayaan yang digagas Ki Hadjar Dewantara? 2. Bagaimana Pendidikan (Agama) perspektif Ki Hadjar Dewantara? 3. Bagaimana relasi pendidikan (agama) dan kebudayaan perspektif pemikiran Ki Hajar Dewantara? Hasil penelitian mengungkapkan bahwa 1. Melalui perjalanan tri-kon: kontinyu, konvergen, konsentris, Ki Hadjar mencoba menyusun argumennya mengenai mempertahankan tradisi lokal dan merangkulnya dalam kebudayaan nasional. 2. Kodrat manusia yaitu jiwa merdeka secara lahiriah maupun batiniah. Secara praktis, konsep pendidikan yang beliau terapkan di Taman Siswa yaitu dengan menolak ajaran pemaksaan, perintah dan hukuman, karena dinilai tidak manusiawi dan sesuai dengan kodrat manusia. Sedangkan, kodrat kebangsaan yaitu hidup secara bersama, satu nusa dan satu bangsa, dengan jiwa nasionalisme. 3. Relasi antara pendidikan (agama) dan kebudayaan masing-masing ditempatkan pada ruang publik (pendidikan dan kebudayaan) dan privat (agama)

Downloads

Download data is not yet available.

Author Biography

Hawwin Muzakki, IAIN PONOROGO
https://scholar.google.com/citations?hl=id&user=6jtz1TgAAAAJ
Published
2019-11-26
How to Cite
Muzakki, H. (2019). Relasi Pendidikan (Agama) dan Kebudayaan. Proceedings of Annual Conference for Muslim Scholars, 3(1). Retrieved from http://proceedings.kopertais4.or.id/index.php/ancoms/article/view/287